Bab Satu
Korea.
Langit
Biru. Udara hangat. Cuaca sempurna. Ya. Sangat Sempurna.
Pagi
yang biasanya terlampau dingin terasa sedikit hangat. Benar-benar pagi yang
damai. Sepertinya tidak ....
“Eomma[1]...
kenapa ranselku bisa menjadi sebesar ini ? Kau memasukkan apa kedalamnya ?”
histeris sebuah suara sukses membuat sesosok wanita paruh baya yang sedang
hikmat mengupas buah hampir saja melemparkan pisaunya kearah sosok laki-laki
yang sedikit lebih dewasa dari wanita itu.
“Park
Tae-Ra... jangan berteriak seperti itu. Kau hampir saja membuat kedua orang
tuamu terbunuh” cibir wanita –eomma kepada
pemilik suara yang dengan beringasnya menuruni tangga rumahnya untuk menjumpai
sang eomma yang tengah duduk santai
bersama abeoji[2]nya.
“Eomma terlalu berlebihan. Eomma apakan ranselku ? Kenapa bisa
mengembang seperti ini ? Aigoo[3]...
bahkan kau memasukkan tali tambang seperti ini kedalam ranselku. Eomma, aku tidak pergi mendaki gunung.
Aku hanya akan backpacking saja.”
Celoteh Tae-Ra sambil menggeledah kembali isi dalam ranselnya yang sungguh ajaib.
“Bukan
perbuatan eomma. Mana mungkin eomma berbuat hal bodoh seperti itu.
Mungkin saja itu perbuatan abeojimu”
“Jangan
membawa diriku dalam masalah kalian. Cepat kupaskan apelnya” sergah abeoji yang sedari tadi diam sambil
membaca koran paginya.
“Kalian
berdua sama saja.” Seru Tae-Ra sambil memberikan tatapan sebalnya. “Aku harus
merapikan isi tasku lagi”.
“Sudahlah
biarkan saja seperti itu. Siapa tau kau membutuhkan barang-barang itu nantinya.
Lagipula tidak akan sempat. Jam berapa pesawatmu ?” ujar abeoji setelah meletakkan koran pada meja didepannya.
“Ah...
jam berapa ini ?” ucap Tae-Ra sambil memeriksa jam pada pergelangan tangannya.
“Gawat... dua jam lagi jadwal pesawatku abeoji.
Ayo antarkan aku ke bandara” cerca Tae-Ra sambil kembali merapikan ransel –yang
telampau besar—itu untuk disampirkan pada punggungnya. “Aku pergi dulu eomma. Jangan terlalu merindukanku. Saranghae[4]”
Tae-Ra mengecup pipi eommanya
sekilas setelahnya berlari untuk mengenakan sepatunya. “Abeoji. Ppali[5]”
Aboeji Tae-Ra
hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya. “Aku pergi dulu” pamitnya
pada istrinya yang terlihat menahan tangis setelah putrinya tak lagi terlihat
didalam rumah.
“Dia
belum sarapan pagi” Tuan Park—abeoji
Tae-Ra hanya mengelus punggung istrinya lembut.
“ABOEJI PALLI” kembali –teriakan Tae-Ra
terdengar dari balik pintu yang masih terlihat sedikit celahnya.
“Sudah
cepat sana antarkan anakmu. Aigoo...
Berisik sekali dia” seru Nyonya Park pada suaminya yang hanya tersenyum melihat
tingkah istrinya itu.
-o-o-O-o-o-
City car
warna biru langit itu baru saja berhenti tepat di area garis parkir Bandara
Internasional Incheon. Terlihat dari kaca transparan mobil Park Tae-Ra bersama
Tuan Park –aboejinya.
“Kau
harus segera menghubungi eommamu jika
sudah sampai di Hongkong” Wejangan khas seorang ayah sebelum melepas putrinya
pergi seorang diri. Apalagi ini pergi keluar negeri. Meskipun memang tak bisa
dikatakan terlalu jauh, tapi tetap saja luar negeri dan berada di luar jarak
pandang orang tua.
“Nde[6]
abeoji tidak perlu khawatir. Aku akan
baik-baik saja” jawab Tae-Ra singkat. Tidak
terlalu memperhatikan aboejinya yang
memberikan tatapan khawatir kepadanya. Gadis itu masih terlihat sibuk dengan
tas kecil dalam pangkuannya. Sekedar memeriksa ulang barang-barang kecil yang
terlalu penting untuk sekedar ditinggalkannya.
Tuan
Park mendelik pada putrinya “Aku hanya menyuruhmu menghubungi eommamu. Mengapa seperti itu jawabanmu
?”
Tae-Ra
balas menatap aboejinya yang mendelik pada dirinya “Hahaha... aku tahu maksud abeoji. Sudahlah. Aku harus segera
masuk” kata Tae-Ra. Setelahnya pasangan ayah-anak itu keluar dari mobil dan
dengan cekatan Tuan Park segera membantu putrinya memasangkan ransel besar itu
dipunggung putrinya.
“Aboeji jangan mengantarku sampai
kedalam. Lagipula sebentar lagi pesawatnya take
off. Baiklah, aku harus bergegas jika tidak mau tertinggal. Aboeji jaga diri baik-baik dan katakan
pada eomma untuk tidak terlalu mengkhawatirkanku.
Saranghae aboeji. Dan... jangan
mengebut saat menyetir pulang nanti. Sampai jumpa”
Tuan
Park hanya tersenyum tanpa bermaksud membalas ucapan Tae-Ra. Bahkan laki-laki
yang tak bisa dikatakan muda itu masih saja memasang senyum teduhnya saat matanya
tak lagi dapat melihat sosok Tae-Ra yang telah memasuki bandara dengan langkah
cepatnya.
“Dasar
anak itu”
-o-o-O-o-o-
Hongkong
“Park
Tae-Raaaaa...........” teriak sebuah suara. Tak sadarkah jika kini seluruh
pasang mata dalam bandara yang cukup padat itu menatap kearahnya ? Sudahlah
biarkan saja sang pemilik suara yang malah mengembangkan senyumnya hingga makin
mengembang.
Berbeda
dengan sosok yang berteriak dengan nada tinggi melebihi suara Max Changmin[7]
dalam lagu Keep Your Head Down yang
menampilkan wajah tersenyumnya. Tae-Ra memandang sosok itu dengan pandangan
horornya. Siapa yang tidak bersikap seperti Tae-Ra jika seseorang berusaha
menyeretmu dalam jurang ke-malu-an.
Tae-Ra berjalan lurus kearah sosok itu, bukan –ralat, memang Tae-Ra berjalan seperti
kearah sosok itu karena sosok yang masih saja tersenyum lebar itu kini berada
di jalur keluar masuk bandara. Semakin dekat Tae-Ra berjalan dan... dengan
teganya Tae-Ra berjalan melewati sosok yang tersenyum lebar dengan pandangan
mata tepat kearah Tae-Ra yang tentu saja bersikap seolah
–aku-tidak-mengenal-makhluk-aneh-ini-.
“Hey,
dasar kau... Park Tae-Ra... Berhenti kau bocah” dan lagi –teriakan dari sosok
itu kembali menggema dalam bangunan persinggahan pesawat-pesawat besar itu.
.
.
“Dasar
tidak tau diri” umpatan kesal yang dibarengi dengan jitakan keras diatas kepala
itu sepertinya dilakukan sepenuh hati.
“Awww...”
Terbukti seberapa keras teriakan dari sang korban.”Dasar gila... bagaimana jika
aku mengalami pendarahan dalam kepala lalu tiba-tiba aku mati seketika. Kau
akan kehilangan sepupu menawan sepertiku”
“Tidak
perlu berlebihan. Siapa suruh kau berlaku seperti tidak mengenaliku saat di
dalam bandara tadi.”
Tae-Ra memandang laki-laki di hadapannya sebal “Hei... Chen bodoh... Bagaimana bisa imo[8]ku
yang pintar bisa memiliki anak bodoh dan tak tahu malu sepertimu” cibir Tae-Ra.
“Apa
maksudmu ?” sergah Chen tak terima. Laki-laki berwajah oriental dengan tinggi
yang tidak wajar untuk kalangan orang Asia apalagi dengan rambut yang diwarnainya
menjadi coklat brunette itu
bertingkah seperti hendak memukul kepala gadis yang memiliki tinggi tak lebih
sebatas pundaknya.
Tae-Ra dengan sigap mundur beberapa langkah dari hadapan Chen. “Hey... Hey... Hey...
saudara sepupuku yang manis dan tak terlalu tampan. Tak taukah jika tindakanmu
di dalam tadi sangat memalukan. Berteriak seperti orang gila. Benar-benar
memalukan.” Kata Tae-Ra dengan nada mendramatisir.
“Kau...
Ya ! Beraninya kau mengataiku seperti itu Park Tae-Ra. Bagimana bisa ibuku
yang cantik dan baik hati bisa memiliki keponakan tak tau diri sepertimu.”
Jawab Chen yang kembali berteriak.
“Sudahlah.
Aku bisa tuli jika seharian hanya mendengar teriakanmu itu. Mana mobilmu ?”
kata Tae-Ra santai seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya.
Chen
menghela napas, mencoba bersabar atas tingkah saudara sepupunya itu. “Dasar
bodoh. Mengataiku bodoh tapi kau lebih bodoh dariku. Mana mungkin aku memiliki
mobil di Hongkong.” Jawab Chen ketus.
Tae-Ra memutar bola matanya malas. “Bisa saja kan kau menyewa mobil untuk
menjemputku.” Kilah Tae-Ra dengan wajah jengah –seolah mencibir laki-laki
dihadapannya.
Kembali
Chen mencoba meredam amarahnya yang sudah mencabai batas leher. Memang seperti
itulah jika dirinya bertemu dengan saudara sepupunya. Anak dari kakak laki-laki
ibunya itu sungguh memiliki mulut yang tajam melebihi pisau daging tertajam
sekalipun. “Bagaimana bisa aku menjemputmu menggunakan mobil jika aku juga baru
saja sampai dari Beijing beberapa jam yang lalu. Dasar Bo-Doh !”
Tae-Ra hanya memutar bola matanya malas, melanjutkan perdebatan tentang siapa-yang-paling-bodoh-disini
dan ayolah Tae-Ra sangat yakin jika saudara sepupu yang lebih tua darinya itu
memang lebih bodoh darinya.
“Berhentilah
berpikiran jika kau lebih pintar dariku. Wajahmu itu benar-benar mencurigakan.
“ kata Chen seperti dapat membaca pikiran Tae-Ra.
“Diam
kau oppa[9].
Mengganggu imajinasiku saja.” Jawab Tae-Ra tanpa mau balas menatap Chen.
Chen
berseru cepat. “Panggil aku gege[10].”
“Tidak
akan pernah. Aku orang Korea jadi aku memanggilmu oppa.”
“Terserah.
Lakukan sesukamu Park Tae-Ra. Sebaiknya kau segera mengganti kartu ponselmu
dan cepat hubungi ibumu. Aku yakin jika sekarang Bibi Park sedang menangis
karena ditinggal anak gadisnya.” Kata Chen sarkastis. Menatap raut kesal Tae-Ra merupakan kesenangan tersendiri baginya.
Tae-Ra mendelik kesal kearah wajah tersenyum Chen. “Kau benar-benar cerewet. bagaimana
bisa bibiku yang baik itu tahan dengan anak sepertimu. Menyedihkan sekali. Tunggu
aku disini.”
Tak
perlu menunggu jawaban Chen, Tae-Ra segera beranjak untuk kembali kedalam
bandara. Tentu saja mencari counter untuk mengganti kartu ponselnya.
Tak
terlalu sulit untuk mencari counter karena telah tersedia banyak counter yang
menyediakan provider lokal untuk pendatang seperti Tae-Ra. Hanya membayar
beberapa mata uang Hongkong dan Tae-Ra telah mendapat apa yang dikehendakinya.
Tae-Ra masih duduk didepan salah satu counter dalam bandara itu. Setelah menyelesaikan
urusan dengan ponselnya, Tae-Ra memencet beberapa tombol yang telah dihapalnya
itu. Tak cukup lama karena setelahnya telah terdengar bunyi nada sambung pada
ponsel putih milknya.
“Yeoboseyo[11]...
eomma...”
“Yeobseo... kau
sudah sampai jagi[12]
? Apa baik-baik saja ? Kau mengalami mabuk udara ? Atau...”
“Tak
perlu mengkhawatirkanku eomma. Semua dalam kendaliku.”
“Syukurlah. Apa Chen
sudah bersamamu ?”
“Nde”
“Eomma ingin bicara dengan sepupumu”
“Tak bisa eomma. Dia berada di luar bandara
sekarang. Sudah dulu eomma, biaya
pulsa luar negeri mahal. Bye eomma”
kata Tae-Ra sesaat sebelum memutuskan sambungan dengan eommanya.
“Pasti
eomma akan mengatakan hal-hal memalukan pada Chen oppa.” Kata Tae-Ra pada
dirinya sendiri.
Tak
lama setelahnya. Tae-Ra bergegas memasukkan ponselnya pada tas kecil yang
terselempang di bahunya. Lalu mulai beranjak kearah pintu keluar masuk bandara
untuk menemui Chen yang masih menungguinya di luar. Entah apa yang dilakukan
pemuda China itu selama menunggu Tae-Ra menghubungi ibunya, yang jelas Tae-Ra tidak terlalu perduli selama laki-laki itu tidak melakukan hal absurd apalagi jika laki-laki itu berani
meninggalkan dirinya.
I've made it on 2012 and published without editing again.... So, hemmm.... I know it's worse...
[1] Ibu
[2] Ayah
[3] Ungkapan
dalan bahasa Korea
[4] Aku
Cinta Padamu
[5] Cepat
[6] Ya.
[7] Member
DBSK
[8] Bibi
[9]
Panggilan dari adik perempuan untuk kakak laki-laki
[10] Kakak
[11] Ungkapa
‘Halo’ dalam sambungan telepon
[12]
Panggilan ‘sayang’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar