Selasa, 19 Maret 2013

Haru


Bab Satu


Korea.

Langit Biru. Udara hangat. Cuaca sempurna. Ya. Sangat Sempurna.

Pagi yang biasanya terlampau dingin terasa sedikit hangat. Benar-benar pagi yang damai. Sepertinya tidak ....

Eomma[1]... kenapa ranselku bisa menjadi sebesar ini ? Kau memasukkan apa kedalamnya ?” histeris sebuah suara sukses membuat sesosok wanita paruh baya yang sedang hikmat mengupas buah hampir saja melemparkan pisaunya kearah sosok laki-laki yang sedikit lebih dewasa dari wanita itu.

“Park Tae-Ra... jangan berteriak seperti itu. Kau hampir saja membuat kedua orang tuamu terbunuh” cibir wanita –eomma kepada pemilik suara yang dengan beringasnya menuruni tangga rumahnya untuk menjumpai sang eomma yang tengah duduk santai bersama abeoji[2]nya.

Eomma terlalu berlebihan. Eomma apakan ranselku ? Kenapa bisa mengembang seperti ini ? Aigoo[3]... bahkan kau memasukkan tali tambang seperti ini kedalam ranselku. Eomma, aku tidak pergi mendaki gunung. Aku hanya akan backpacking saja.” Celoteh Tae-Ra sambil menggeledah kembali isi dalam ranselnya yang sungguh ajaib.

“Bukan perbuatan eomma. Mana mungkin eomma berbuat hal bodoh seperti itu. Mungkin saja itu perbuatan abeojimu”

“Jangan membawa diriku dalam masalah kalian. Cepat kupaskan apelnya” sergah abeoji yang sedari tadi diam sambil membaca koran paginya.

“Kalian berdua sama saja.” Seru Tae-Ra sambil memberikan tatapan sebalnya. “Aku harus merapikan isi tasku lagi”.

“Sudahlah biarkan saja seperti itu. Siapa tau kau membutuhkan barang-barang itu nantinya. Lagipula tidak akan sempat. Jam berapa pesawatmu ?” ujar abeoji setelah meletakkan koran pada meja didepannya.

“Ah... jam berapa ini ?” ucap Tae-Ra sambil memeriksa jam pada pergelangan tangannya. “Gawat... dua jam lagi jadwal pesawatku abeoji. Ayo antarkan aku ke bandara” cerca Tae-Ra sambil kembali merapikan ransel –yang telampau besar—itu untuk disampirkan pada punggungnya. “Aku pergi dulu eomma. Jangan terlalu merindukanku. Saranghae[4]” Tae-Ra mengecup pipi eommanya sekilas setelahnya berlari untuk mengenakan sepatunya. “Abeoji. Ppali[5]

Aboeji Tae-Ra hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya. “Aku pergi dulu” pamitnya pada istrinya yang terlihat menahan tangis setelah putrinya tak lagi terlihat didalam rumah.

“Dia belum sarapan pagi” Tuan Park—abeoji Tae-Ra hanya mengelus punggung istrinya lembut.

ABOEJI PALLI” kembali –teriakan Tae-Ra terdengar dari balik pintu yang masih terlihat sedikit celahnya.

“Sudah cepat sana antarkan anakmu. Aigoo... Berisik sekali dia” seru Nyonya Park pada suaminya yang hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.

-o-o-O-o-o-

City car warna biru langit itu baru saja berhenti tepat di area garis parkir Bandara Internasional Incheon. Terlihat dari kaca transparan mobil Park Tae-Ra bersama Tuan Park –aboejinya.

“Kau harus segera menghubungi eommamu jika sudah sampai di Hongkong” Wejangan khas seorang ayah sebelum melepas putrinya pergi seorang diri. Apalagi ini pergi keluar negeri. Meskipun memang tak bisa dikatakan terlalu jauh, tapi tetap saja luar negeri dan berada di luar jarak pandang orang tua.

Nde[6] abeoji tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja” jawab  Tae-Ra singkat. Tidak terlalu memperhatikan aboejinya yang memberikan tatapan khawatir kepadanya. Gadis itu masih terlihat sibuk dengan tas kecil dalam pangkuannya. Sekedar memeriksa ulang barang-barang kecil yang terlalu penting untuk sekedar ditinggalkannya.

Tuan Park mendelik pada putrinya “Aku hanya menyuruhmu menghubungi eommamu. Mengapa seperti itu jawabanmu ?”

Tae-Ra balas menatap aboejinya yang mendelik pada dirinya “Hahaha... aku tahu maksud abeoji. Sudahlah. Aku harus segera masuk” kata Tae-Ra. Setelahnya pasangan ayah-anak itu keluar dari mobil dan dengan cekatan Tuan Park segera membantu putrinya memasangkan ransel besar itu dipunggung putrinya.

Aboeji jangan mengantarku sampai kedalam. Lagipula sebentar lagi pesawatnya take off. Baiklah, aku harus bergegas jika tidak mau tertinggal. Aboeji jaga diri baik-baik dan katakan pada eomma untuk tidak terlalu mengkhawatirkanku. Saranghae aboeji. Dan... jangan mengebut saat menyetir pulang nanti. Sampai jumpa”

Tuan Park hanya tersenyum tanpa bermaksud membalas ucapan Tae-Ra. Bahkan laki-laki yang tak bisa dikatakan muda itu masih saja memasang senyum teduhnya saat matanya tak lagi dapat melihat sosok Tae-Ra yang telah memasuki bandara dengan langkah cepatnya.

“Dasar anak itu”

-o-o-O-o-o-

Hongkong

“Park Tae-Raaaaa...........” teriak sebuah suara. Tak sadarkah jika kini seluruh pasang mata dalam bandara yang cukup padat itu menatap kearahnya ? Sudahlah biarkan saja sang pemilik suara yang malah mengembangkan senyumnya hingga makin mengembang.

Berbeda dengan sosok yang berteriak dengan nada tinggi melebihi suara Max Changmin[7] dalam lagu Keep Your Head Down yang menampilkan wajah tersenyumnya. Tae-Ra memandang sosok itu dengan pandangan horornya. Siapa yang tidak bersikap seperti Tae-Ra jika seseorang berusaha menyeretmu dalam jurang ke-malu-an.

Tae-Ra berjalan lurus kearah sosok itu, bukan –ralat, memang Tae-Ra berjalan seperti kearah sosok itu karena sosok yang masih saja tersenyum lebar itu kini berada di jalur keluar masuk bandara. Semakin dekat Tae-Ra berjalan dan... dengan teganya Tae-Ra berjalan melewati sosok yang tersenyum lebar dengan pandangan mata tepat kearah Tae-Ra yang tentu saja bersikap seolah –aku-tidak-mengenal-makhluk-aneh-ini-.

“Hey, dasar kau... Park Tae-Ra... Berhenti kau bocah” dan lagi –teriakan dari sosok itu kembali menggema dalam bangunan persinggahan pesawat-pesawat besar itu.

.
.

“Dasar tidak tau diri” umpatan kesal yang dibarengi dengan jitakan keras diatas kepala itu sepertinya dilakukan sepenuh hati.

“Awww...” Terbukti seberapa keras teriakan dari sang korban.”Dasar gila... bagaimana jika aku mengalami pendarahan dalam kepala lalu tiba-tiba aku mati seketika. Kau akan kehilangan sepupu menawan sepertiku”

“Tidak perlu berlebihan. Siapa suruh kau berlaku seperti tidak mengenaliku saat di dalam bandara tadi.”

Tae-Ra memandang laki-laki di hadapannya sebal “Hei... Chen bodoh... Bagaimana bisa imo[8]ku yang pintar bisa memiliki anak bodoh dan tak tahu malu sepertimu” cibir Tae-Ra.

“Apa maksudmu ?” sergah Chen tak terima. Laki-laki berwajah oriental dengan tinggi yang tidak wajar untuk kalangan orang Asia apalagi dengan rambut yang diwarnainya menjadi coklat brunette itu bertingkah seperti hendak memukul kepala gadis yang memiliki tinggi tak lebih sebatas pundaknya.

Tae-Ra dengan sigap mundur beberapa langkah dari hadapan Chen. “Hey... Hey... Hey... saudara sepupuku yang manis dan tak terlalu tampan. Tak taukah jika tindakanmu di dalam tadi sangat memalukan. Berteriak seperti orang gila. Benar-benar memalukan.” Kata Tae-Ra dengan nada mendramatisir.

“Kau... Ya ! Beraninya kau mengataiku seperti itu Park Tae-Ra. Bagimana bisa ibuku yang cantik dan baik hati bisa memiliki keponakan tak tau diri sepertimu.” Jawab Chen yang kembali berteriak.

“Sudahlah. Aku bisa tuli jika seharian hanya mendengar teriakanmu itu. Mana mobilmu ?” kata Tae-Ra santai seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya.

Chen menghela napas, mencoba bersabar atas tingkah saudara sepupunya itu. “Dasar bodoh. Mengataiku bodoh tapi kau lebih bodoh dariku. Mana mungkin aku memiliki mobil di Hongkong.” Jawab Chen ketus.

Tae-Ra memutar bola matanya malas. “Bisa saja kan kau menyewa mobil untuk menjemputku.” Kilah Tae-Ra dengan wajah jengah –seolah mencibir laki-laki dihadapannya.

Kembali Chen mencoba meredam amarahnya yang sudah mencabai batas leher. Memang seperti itulah jika dirinya bertemu dengan saudara sepupunya. Anak dari kakak laki-laki ibunya itu sungguh memiliki mulut yang tajam melebihi pisau daging tertajam sekalipun. “Bagaimana bisa aku menjemputmu menggunakan mobil jika aku juga baru saja sampai dari Beijing beberapa jam yang lalu. Dasar Bo-Doh !”

Tae-Ra hanya memutar bola matanya malas, melanjutkan perdebatan tentang siapa-yang-paling-bodoh-disini dan ayolah Tae-Ra sangat yakin jika saudara sepupu yang lebih tua darinya itu memang lebih bodoh darinya.

“Berhentilah berpikiran jika kau lebih pintar dariku. Wajahmu itu benar-benar mencurigakan. “ kata Chen seperti dapat membaca pikiran Tae-Ra.

“Diam kau oppa[9]. Mengganggu imajinasiku saja.” Jawab Tae-Ra tanpa mau balas menatap Chen.
Chen berseru cepat. “Panggil aku gege[10].”

“Tidak akan pernah. Aku orang Korea jadi aku memanggilmu oppa.”

“Terserah. Lakukan sesukamu Park Tae-Ra. Sebaiknya kau segera mengganti kartu ponselmu dan cepat hubungi ibumu. Aku yakin jika sekarang Bibi Park sedang menangis karena ditinggal anak gadisnya.” Kata Chen sarkastis. Menatap raut kesal Tae-Ra merupakan kesenangan tersendiri baginya.

Tae-Ra mendelik kesal kearah wajah tersenyum Chen. “Kau benar-benar cerewet. bagaimana bisa bibiku yang baik itu tahan dengan anak sepertimu. Menyedihkan sekali. Tunggu aku disini.”

Tak perlu menunggu jawaban Chen, Tae-Ra segera beranjak untuk kembali kedalam bandara. Tentu saja mencari counter untuk mengganti kartu ponselnya.

Tak terlalu sulit untuk mencari counter karena telah tersedia banyak counter yang menyediakan provider lokal untuk pendatang seperti Tae-Ra. Hanya membayar beberapa mata uang Hongkong dan Tae-Ra telah mendapat apa yang dikehendakinya.

Tae-Ra masih duduk didepan salah satu counter dalam bandara itu. Setelah menyelesaikan urusan dengan ponselnya, Tae-Ra memencet beberapa tombol yang telah dihapalnya itu. Tak cukup lama karena setelahnya telah terdengar bunyi nada sambung pada ponsel putih milknya.

Yeoboseyo[11]... eomma...”

“Yeobseo... kau sudah sampai jagi[12] ? Apa baik-baik saja ? Kau mengalami mabuk udara ? Atau...”

“Tak perlu mengkhawatirkanku eomma. Semua dalam kendaliku.”

“Syukurlah. Apa Chen sudah bersamamu ?”

Nde

Eomma ingin bicara dengan sepupumu”

Tak bisa eomma. Dia berada di luar bandara sekarang. Sudah dulu eomma, biaya pulsa luar negeri mahal. Bye eomma” kata Tae-Ra sesaat sebelum memutuskan sambungan dengan eommanya.

“Pasti eomma akan mengatakan hal-hal memalukan pada Chen oppa.” Kata Tae-Ra pada dirinya sendiri.

Tak lama setelahnya. Tae-Ra bergegas memasukkan ponselnya pada tas kecil yang terselempang di bahunya. Lalu mulai beranjak kearah pintu keluar masuk bandara untuk menemui Chen yang masih menungguinya di luar. Entah apa yang dilakukan pemuda China itu selama menunggu Tae-Ra menghubungi ibunya, yang jelas Tae-Ra tidak terlalu perduli selama laki-laki itu tidak melakukan hal absurd apalagi jika laki-laki itu berani meninggalkan dirinya.

 I've made it on 2012 and published without editing again.... So, hemmm.... I know it's worse...


[1] Ibu
[2] Ayah
[3] Ungkapan dalan bahasa Korea
[4] Aku Cinta Padamu
[5] Cepat
[6] Ya.
[7] Member DBSK
[8] Bibi
[9] Panggilan dari adik perempuan untuk kakak laki-laki
[10] Kakak
[11] Ungkapa ‘Halo’ dalam sambungan telepon
[12] Panggilan ‘sayang’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar