-Kertas Lusuh Di tengah Memoriku-
Saat itu, waktu dimana aku terduduk di sana. Aku tak
sendiri. Karena saat itu kau duduk tepat di sebelah kiriku. Bahkan kau tak
memberikan jarak yang berarti di antara kita. Aku hanya terdiam menopang daguku
pada lutut yang tertekuk. Sedangkan dirimu ? Aku tak begitu yakin apa yang
tengah kau lakukan saat itu. Mungkin aku juga dirimu memiliki pikiran yang
benar-benar rumit saat itu. Aku yang dengan tak tahu diri ingin bertemu
denganmu setelah kejahatan yang dengan sadar ku lakukan. Aku benar-benar tak
pernah memikirkan apa perasaanmu pada saat itu. Aku bahkan tak pernah mempunyai
pemikiran apakah kau akan membenciku. Mungkin aku terlalu percaya diri jika
hanya aku yang akan membekas dalam hatimu. Meskipun baru kali ini aku
benar-benar menyadari jika aku memang membekas terlalu dalam. Dan itu merupakan
luka. Luka yang terlampau dalam untuk bisa ku balut. Dan aku tak pernah
benar-benar memikirkan tentang itu. Karena aku hanya tahu aku dan perasaanku. Hanya
aku dan apa yang aku pikirkan. Hanya aku dan diriku di dalamnya. Tak pernah ada
dirimu yang tersakiti. Tak pernah ada dirimu yang mungkin saja pernah
meneteskan air mata untukku. Dan aku baru memikirkan ini saat aku benar-benar
kehilangan. Saat aku melihat dari sisi yang berbeda. Aku selalu berkata jika
aku muak karena akulah yang selalu di jadikan tersangka tanpa mereka tahu apa
yang sebenarnya tengah aku rasakan saat itu. Tapi bagaimana jika semua itu
benar. Bagaimana jika akulah penjahatnya dan yang terburuk adalah kenyataan
jika aku benar-benar membuat luka yang terlalu dalam bahkan tak sanggup untuk
sekedar menutupnya. Aku merasa terlalu buruk untuk menyadari semua hal. Ya. aku
adalah penyembunyi perasaan yang ulung. Tak akan ku biarkan sesorang mengetahui
apa yang ku rasakan dengan mudahnya, dengan seenaknya. Bahkan aku lebih sering
memberikan kesan yang bertolak belakang dengan apa yang sedang aku rasakan. Dan
mungkin karena ego yang terlampau besar itu pula menjadikan aku sebagai sosok
yang benar-benar keras. Dan aku tak akan semudah itu berbicara mengenai
persaan. Dan itu masih berlaku sampai sekarang.
Dan tiba-tiba aku teringat saat itu, saat di mana aku
bersikap seolah-olah kau adalah tersangka kejih yang mempermainkan banyak hati.
Tapi bukankah aku lebih jahat dari itu ? Mungkin hanya kau satu-satunya orang
yang berususan dengan pemasalah sepertiku. Dan meskipun hanya satu tapi
benar-benar tak termaafkan. Apa mungkin seperti itu ? Entahlah. Tapi saat aku
bersikap seolah. Ah, aku bahkan tak merasakan apapun saat duduk berdampingan
denganmu. Dan aku benar-benar tak tahu. Sampai aku membiarkan diriku tetap
bertanya-tanya akan hal asing yang selalu timbul tenggelam dalam diriku. Maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar