“Kau –kau siapa
sebenarnya ?” lirih HyukJae menatap tajam pemuda yang masih menampilkan senyum
manisnya.
“Aku Lee Donghae”
ucap Donghae masih dengan senyumnya.
“Aishhhh....”
geram Hyukjae tertahan, mengacak-acak kasar rambutnya. “Lalu dimana aku
sekarang ?” ketus HyukJae.
“Kau ada di ruang
kesehatan sunbae”
“Terserah kau
sajalah. Aku mau keluar dari sini. Bertemu dengan makhluk aneh sepertimu
benar-benar membuat kepalaku pusing luar biasa.” HyukJae dengan kasar
menurunkan tubuhnya dari ranjang kecil hingga menimbulkan derik yang cukup
memekakkan telinga.
“Kau terlihat
belum sehat sunbae”
“Diamlah. Jangan
berbicara lagi. Suaramu membuat telingaku sakit”
Kembali HyukJae
meracau tak jelas. Berjalan dengan sedikit sempoyongan saat dirasa sisa-sisa
sakit kepala masih sedikit tertinggal. Menggapai knop pintu di hadapannya
dengan cepat, hanya berharap segera terhindar dari makhluk yang sudah di cap
–manusia aneh oleh HyukJae.
“Lee Donghae...”
lirih HyukJae “Lee Donghae...” kembali HyukJae berujar “KAU” teriak HukJae
setelah dirinya dengan gerakan yang teramat cepat telah kembali menghadapkan
tubuhnya pada Donghae.
“Kenapa.. Kenapa aku ?” kembali HyukJae bergumam seraya
menatap kedua telapak tangannya dengan pandangan tak percaya.
.
.
Sesosok pemuda
tampak hikmat dengan dunianya. Terduduk nyaman memmperhatikan deretan alphabet
yang berjejer membentuk sesuatu yang di sebut kata. Bahkan terlampau panjang
hinggga berganti pula penamaannya. Peduli setan dengan hal yang tak terlalu
penting untuk saat ini. Pemuda itu nampak benar-benar terhanyut oleh buku di
hadapannya.
Tampak sesekali
pemuda itu mengernyitkan dahinya kala didapatinya sesuatu yang mungkin tak
dimengerti olehnya. Perlahan, pemuda itu menyandarkan punggungnya pada sandaran
kursi, selanjutnya menghembuskan napas berat. Mengusap wajahnya sekilas, hingga
menimbulkan ekspresi kosong. Tak jelas entah kemana kini pandangan pemuda itu
terarah.
.
.
knock knock Knock
Derit pelan dari
pintu coklat yang sebelumnya tertutup rapat sampai di telinga seorang laki-laki
dewasa dengan setelan khas dokter di tubuhnya. Menatap kearah pintu sampai
matanya menangkap bayangan seorang pemuda dihadapannya.
“Anneyong uisanim”
ucap pemuda itu lirih seraya membungkukkan tubuhnya sempurna.
“Ya, ada perlu apa
? Ada yang sakit ?”
“Ah, tidak ada
uisanim... saya... saya hanya ingin bertanya tentang keadaan siswa bernama Lee
HyukJae. Bagaimana keadaannya saat ini ?” ujar pemuda itu lagi.
Namja yang lebih
dewasa dalam ruangan tak terlalu luas itu menatap sekilas pada pemuda
dihadapannya sebelum memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi
putarnya.
“Siapa namamu ?”
tanya uisanim dengan nada santai.
“Lee Jinki ibnida”

